Notulensi Sharing dan Diskusi: “Islam dan Pedoman Hidup di Perancis” dalam Forum One Week One Juz (OWOJ) Muslimah Eropa


43607089_1909349985815503_6556223171677126656_n

Setelah tilawah juz 23 selesai, seperti biasa dilanjutkan dengan sesi sharing acara One Week One Juz (OWOJ) muslimah eropa pada hari kamis 25 Oktober 2018. Peserta sharing merupakan para muslimah asal Indonesia yang saat ini sedang tinggal di berbagai negara di benua Eropa. Pada kesempatan kali ini, topik sharing yang diambil adalah Islam dan Pedoman Hidup di Perancis. Pemateri untuk sharing kali ini adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang menikahi seorang mualaf asal Perancis, dikaruniai dua orang putra dan sudah tinggal 19 tahun di Monpellier (Perancis), beliau seorang blogger juga kontributor Net.TV, beliau bernama teh Dini Nur Rahmawati.

Beliau mencoba menjadikan Islam sebagai pedoman hidup di setiap urusan, termasuk saat beliau menikah. Beliau mengenal suami beliau yang berkewarganegaraan Perancis pada saat suami beliau mengikuti program pertukaran pelajar di Indonesia dan menjadi keluarga angkat suami beliau di Indonesia. Ternyata setelah setahun berkenalan, saat itu suami beliau menaruh hati dan berniat untuk menikahi beliau. Menanggapi ajakan suami beliau, beliau mensyaratkan jika ingin menikahi beliau harus seiman. Seiman dalam arti memahami dan menjalankan keimanan itu. Sebab saat ini banyak kejadian mualaf yang masuk Islam karena alasan menikah saja, tapi setelah menikah malah kembali pada agamanya semula atau tetap beragama Islam namun tidak menjalankan aturan Islam. Mendengarkan syarat itu, suami beliau meminta waktu untuk berfikir dan mencari lebih dalam lagi tentang Islam. Karena suami beliau ternyata adalah seorang atheis yang sedang mencari kebenaran. Suami beliau pada saat itu mengatakan kepada beliau kalau memang Islam adalah yang suami beliau rasa benar, maka ia akan kembali menemui beliau tapi kalau tidak, mereka akan saling melupakan. Setahun kemudian ternyata suami beliau kembali dan meminta ditemani untuk bersyahadat di masjid Istiqlal Jakarta. Suami beliau merasa bahwa Islam merupakan agama yang Indah dan damai.

Beliau dan suami beliau pun menikah dan saat kontrak suami beliau habis di Indonesia, akhirnya beliau dan suami beliau berangkat ke Perancis. Saat itu beliau sudah dikarunia anak berusia dua bulan, dan karena suami beliau belum memiliki pekerjaan di Perancis akhirnya beliau tinggal di rumah mertua. Disinilah awal mula perjuangan beliau dan keluarga dimulai. Beliau ternyata memiliki seorang ibu mertua yang atheis, hanya saja benci terhadap Islam. Mengetahui anaknya masuk Islam saja pasti membuat beliau kaget apalagi jika memiliki menantu yang juga beragama Islam. Mungkin kebencian ini disebabkan ketidaktahuan terkait Islam dan mendapat informasi dari luar kalau Islam adalah teroris, bar bar, mengekang perempuan dan lain-lain. Tapi alhamdulillaah setelah perjalanan panjang penuh kesabaran dan perjuangan, pada akhirnya ibu mertua beliau sampai berkata bahwa Islam ga seperti yang sebelumnya beliau kira, karena agama mengajarkan perdamaian. Saat anak beliau yang pertama syukuran sunatan di Indonesia, mertua beliau sampai datang ke Indonesia untuk mengikuti syukuran bersama. Bahkan yang sampai membuat haru beliau, saat anak kedua beliau lahir dan mengadakan aqiqah, mertua beliau menawarkan tempat untuk mengadakan syukuran aqiqah bersama keluarga besar beliau, bahkan sampai terlihat mencoba melantunkan shalawat, meskipun mereka tidak tahu artinya. Beliau merasa ini merupakan pencapaian besar sekali. MasyaAllah dari pada mulanya antipati bahkan benci tapi pada akhirnya mendukung beliau dan keluarga.

Saat anak pertamanya goyah tentang keimanan bahkan mempertanyakan kembali terkait adanya Allah, beliau jelas merasa sangat terpukul, mungkin ini disebabkan karena faktor lingkungan anak beliau. Beliau dikuatkan oleh suami beliau dan bersama menguatkan anak beliau. Alhamdulillaah suami beliau yang sebelumnya atheis, bisa dengan mudah menguatkan anak beliau. Anak beliau pun bisa kembali semangat mengimani Islam. Menariknya dalam keluarga beliau, belajar agama Islam bersama, bukan hanya untuk suami beliau yang mualaf saja tapi juga bersama-sama semua bahkan dengan anak beliau. Sehingga satu sama lain bisa saling menguatkan dalam keimanan. Meskipun beliau berada di lingkungan yang jauh dari kata Islami karena minoritas muslim, alhamdulillaah beliau bersama teman-teman beliau yang muslim mengadakan pengajian dan diskusi tentang Islam, bahkan tak jarang peserta pengajian non muslim datang untuk belajar bersama tentang Islam. Banyak dampak positif dari adanya pengajian ini, salah satunya sebagai cara untuk menguatkan keimanan di Perancis. Bahkan teman beliau yang muslim sebelumnya tidak shalat, akhirnya mau shalat lagi dan tilawah juga. Perancis yang menganut pemisahan agama dari kehidupan pun menambah berat perjuangan beliau di sana. Belum lagi Islamphobia yang ada disana, tetapi alhamdulillah setelah beliau mencoba ikhlas untuk menerima semua tantangan itu, Allah memberikan keringanan disana.   Bahkan saat beliau menjalani profesinya untuk meliput berita dengan hijab beliau, alhamdulillah tidak menjadi masalah.

Islam di mata beliau bukanlah hanya sekedar agama yang dianut atau menjadi cap bahwa kita adalah seorang muslim saja. Islam adalah sebuah keyakinan yang harus dijadikan pedoman sehingga harus dijalankan dalam kehidupan, karena ternyata justru dari situlah sumber kekuatan besar yang menjadikan beliau dan keluarga bisa kuat terus berjuang menjalani kehidupan di negara Perancis ini.

 

 

Iklan

Notulensi Bedah Buku Sepatu Orang Lain (SOL) bersama Penulis dalam Forum One Week One Juz (OWOJ) Muslimah Eropa


WhatsApp Image 2018-10-03 at 17.12.32

Setelah tilawah juz 19 selesai, seperti biasa dilanjutkan dengan sesi sharing acara One Week One Juz (OWOJ) muslimah eropa pada hari kamis 27 September 2018. Peserta sharing merupakan para muslimah asal Indonesia yang saat ini sedang tinggal di berbagai negara di benua Eropa. Yang istimewa pada kesempatan kali ini, topik sharing yang diambil adalah tentang sebuah buku yang berjudul Sepatu Orang Lain (SOL). Dan lebih istimewanya lagi ternyata yang menjadi pemateri sesi sharing ini adalah penulis buku itu sendiri yaitu teh Mia Saadah.

Beliau dan kedua orang putranya saat ini sedang berada di Bern (Swiss) dalam rangka menemani suaminya yang bertugas sebagai seorang diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bern-Swiss. Pada tahun 2016, beliau mengunjungi suaminya yang ditugaskan di negara Suriah. Di negeri Syam itulah catatan – catatan harian beliau mulai dikenal luas di media sosial. Bahkan ada satu tulisan beliau yang berjudul Sepatu Orang Lain cukup viral di sosial media, bahkan dibagikan lebih dari tujuh ribu kali dan ditulis ulang oleh banyak pihak, sayangnya tanpa mencantumkan penulis aslinya.

Dari sinilah pula ada penerbit yang melirik tulisan beliau dan meminta beliau untuk membukukan tulisan-tulisan beliau yang inspiratif tersebut. Menanggapi tawaran ini, beliau merasa jika dengan dibukukan tulisan tersebut bisa menjadi teman banyak orang untuk berbagi, kenapa tidak. Dan akhirnya terbitlah buku Sepatu Orang Lain (SOL) ini di bulan agustus tahun 2017.  Tulisan SOL ini pun dijadikan kata penuh makna dalam pembatas buku tersebut. Tulisan singkat ini berbunyi, “jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran kehidupan kita. Rawan tak tepat.”

Buku SOL ini adalah kumpulan dari 24 tulisan yang terilhami dari berbagai kisah nyata beliau sebagai ibu, anak, sahabat, perempuan, dan istri seorang diplomat. Kesemuanya merupakan catatan harian ringan dan sederhana tentang beragam nilai-nilai kehidupan yang terinspirasi dari keseharian. Menurut beliau cerita ini sangat sederhana, tetapi beliau berharap semoga tak miskin makna. Tetapi justru karena sederhana inilah banyak orang yang merasa kisahnya terwakili dengan tulisan beliau ini dan merasa terinspirasi lewat tulisan – tulisan beliau. Kumpulan tulisan setebal 200 halaman ini oleh editor beliau diibaratkan sebagai semangkuk bakso di hari yang hujan atau segelas cokelat panas pada suatu malam yang penuh lelah. Kita bisa memilah membaca kisahnya satu-satu dan semua kisahnya akan memberikan banyak makna serta menjadi teman untuk menghangatkan hati kita.

Dari 24 tulisan inspiratif dari buku SOL ini, ternyata ada satu cerita favorit beliau yang berjudul “ibu optimis”. Di dalam buku disebutkan, bahwa optimisme seorang ibu kiranya semacam doa tanpa penghalang pada Sang Maha Pengabul Doa. Karena itu, di tengah segala cemas takut dan ragu, seorang ibu-lah yang seharusnya menjadi orang pertama, yang seharusnya yakin akan kesuksesan dan keselamatan anaknya untuk dunia dan akhirat. Beliau sangat suka belajar dari kisah seorang ibu pejuang, mulai dari ibu beliau, ibu mertua beliau dan ibu orang hebat seperti ibu pak Habibie.

Waktu satu jam untuk sesi sharing ini ternyata tidak cukup untuk membedah tuntas isi buku tersebut. Tetapi alhamdulillaah ternyata banyak peserta sharing di pertemuan hari itu merasa terinspirasi dan mengakui bahwa mereka mendapatkan banyak pelajaran berharga dari sesi sharing tersebut meskipun hanya dalam waktu yang singkat saja. Pelajaran berharga tersebut salah satunya adalah bahwa dengan kita menulis kita bisa berbagi kisah penuh makna untuk banyak orang. Kunci untuk menulis adalah kita harus banyak membaca, dan membaca ini tidak hanya identik dengan membaca buku saja tapi juga membaca dari setiap peristiwa yang kita alami. Jadikan setiap peristiwa yang kita alami ini tidak hanya lewat begitu saja. Kita harus jadikan kesempatan kehidupan yang Allah berikan ini penuh makna dengan membaca dan kita bagi keberkahan tersebut dengan tulisan. Dan insyaAllah akan ada banyak kebaikan dan keberkahan dari semuanya. Aamiin ya rabb.

 

buku SOL
foto buku Sepatu Orang Lain (SOL)

OWOJ -One Week One Juz- Muslimah Eropa (8 Maret 2018)


OWOJ -One Week One Juz- Muslimah Eropa (8 Maret 2018)

Assalamu’alaykum wr wb,

Mutiara Ummat mengundang muslimah Eropa untuk mengaji online. One Week One Juz (OWOJ):

Hari/ tanggal: Kamis, 8 Maret 2018

Pukul: 09.00-11.00 BST (10.00-12.00 CEST)

Media: skype mutiara.islam (sweden)

Acara:

Lanjutkan membaca “OWOJ -One Week One Juz- Muslimah Eropa (8 Maret 2018)”

OWOJ -One Week One Juz- Muslimah Eropa (1 Maret 2018)


OWOJ -One Week One Juz- Muslimah Eropa (1 Maret 2018)

Assalamu’alaykum wr wb,

Mutiara Ummat mengundang muslimah Eropa untuk mengaji online. One Week One Juz (OWOJ):

Hari/ tanggal: Kamis, 1 Maret 2018

Pukul: 09.00-11.00 BST (10.00-12.00 CEST)

Media: skype mutiara.islam (sweden)

Acara:

Lanjutkan membaca “OWOJ -One Week One Juz- Muslimah Eropa (1 Maret 2018)”